News
Properti & Pasar

Survei BI: harga rumah primer naik 0,69 persen, penjualan mulai membaik

Redaksi Halora ·

Foto: yasrif hq / Unsplash

Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) pasar primer triwulan II 2026 pada 7 Agustus 2026. Data ini menjadi rujukan resmi terbaru yang tersedia untuk membaca arah pasar rumah baru sebelum rilis triwulan III. Hasilnya: harga naik terbatas, penjualan masih turun tetapi jauh lebih ringan.

Harga naik tipis

Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) nasional berada di 110,89, naik 0,69 persen secara tahunan, sedikit lebih cepat dari 0,62 persen pada triwulan I 2026. Menurut InvestorTrust, rumah tipe besar naik 0,68 persen, tipe menengah 0,83 persen, dan tipe kecil 0,49 persen. Tipe kecil dan menengah sama-sama melambat dibanding triwulan sebelumnya.

Penjualan masih turun, tetapi lebih ringan

Penjualan rumah primer terkontraksi 2,36 persen secara tahunan, jauh membaik dari kontraksi 25,67 persen pada triwulan I. Perbaikan ditopang tipe kecil dan besar. Tipe besar tumbuh 13,08 persen, sedangkan tipe kecil turun 2,88 persen. Tipe menengah justru memburuk, turun 10,51 persen.

Dari sisi pembiayaan, 70,05 persen pembelian rumah primer dilakukan lewat KPR. Pengembang sendiri sebagian besar membiayai kebutuhan dananya dari dana internal, yakni 73,28 persen.

Catatan soal wilayah

Survei mencakup 18 kota, dan menurut InvestorTrust 10 kota mengalami percepatan kenaikan harga. Rilis BI dan artikel tersebut tidak memuat angka khusus Jakarta, Banten, atau Jabodetabek, sehingga data di atas bersifat nasional dan tidak bisa langsung dibaca sebagai kondisi Jabodetabek.

Artinya bagi pemilik rumah di Jabodetabek

Kenaikan harga yang kurang dari satu persen setahun menunjukkan pasar rumah baru bergerak pelan, bukan melonjak. Bagi pemilik rumah, nilai properti kemungkinan naik moderat, bukan cepat, sehingga rencana menjual atau menjaminkan rumah sebaiknya tidak bergantung pada asumsi kenaikan tinggi. Bagi calon pembeli, penjualan yang masih lemah di segmen menengah bisa membuka ruang tawar, terutama pada proyek yang stoknya menumpuk, tetapi ini perlu dicek per proyek karena data nasional tidak mewakili lokasi tertentu. Karena sebagian besar pembeli memakai KPR, kemampuan cicilan tetap menjadi penentu utama. Pantau juga rilis triwulan III dari BI untuk memastikan apakah perbaikan ini berlanjut.

Sumber